Laman

Kamis, 27 Juni 2013

Hadiah Presiden SBY Kepada Rakyat Indonesia Menjelang Ramadhan

Jakarta (voa-islam.com) Menjelang Ramadhan ini, rakyat  dan bangsa Indonesia mendapatkan hadiah dari Presiden SBY, berupa "bingkisan" kenaikan BBM. Menjelang Ramadhan, rakyat dan bangsa Indonesia, disuguhi berupa "bingkisan" kenaikan-kenaikan harga kebutuhan pokok.
Langkah pemerintah menaikan BBM sudah harga mati. Seperti tak ada pilihan lain. Pokoknya BBM harus naik. Tak peduli apapun akibatnya terhadap rakyat. Karena subsidi BBM sudah mencapai Rp 300 triliun. Menjadi beban APBN, dan justeru yang menikmati subsidi kelas orang kaya, kata pemerintah. 
Momentum menjelang Ramadhan dijadikan momentum pemerintah SBY menaikkan harga BBM. Karena di bulan Ramadhan dipikir oleh pemerintahan SBY, pasti akan banyak orang yang bersedekah kepada fakir miskin. Ditambah dengan BLSM, maka kenaikan harga BBM, yang pasti diikuti kenaikan kebutuah pokok, rakyat dapat diselamatkan. Itulah pikiran pemerintah menaikkan harga BBM menjelang Ramadhan.
Rakyat miskin tidak akan berontak. Rakyat miskin akan pasrah. Apalagi di bulan Ramadhan tidak boleh membiarkan amarah. Kemarahan akibat kenaikan BBM itu, pasti akan diredam dalam waktu singkat. Kalau pun sebagian rakyat marah itu hanya "tai-tai ayam".
Perlawanan rakyat hanya sebentar akan usai. Apalagi, kemampuan PKS yang menolak BBM, menggalang massa sekarang sudah melemah, terutama kampus-kampus. Mahasiswa tidak akan berontak terlalu lama. Buktinya usai paripurna DPR, suara mahasiswa hilang belaka.
Rakyat Indonesia itu tak ada tradisi perlawanan dan menentang rezim. Tradisi rakyat Indonesia itu hanyalah nrimo dan pasrah. Kalau pemerintah SBY mengambil keputusan menaikkan harga BBM sampai Rp 15.000 per/liter premium, rakyat pasti akan nurut, tak akan menolakknya.
Mental dan budaya yang "lembek"  rakyat dan bangsa Indonsia itu, sifatnya seperti permanen. Kata-kata revolusi hanyalah ilusi segelintir orang.
Kaum "revolusioner" yang perutnya lapar dan matanya nanar, sudah sangat mudah dibujuk oleh pemerintah. Dengan pemerintah sekerat tulang "kekuasaan" dan "harta" lidah mereka sudah kelu. Tidak berani lagi menggonggong terhadap kebijakan pemerintah yang sangat menyakiti rakyat.
Banyak para tokoh revolusioner yang dahulunya menggebu-nggebu penuh dengan idealisme, sekarang seperti krupuk "kehujanan" mlempem, tak berdaya seperti sayur. Lihat
Lihat mereka yang menjadi staf khusus Presiden SBY, banyak dahulunya para aktivis, dan ketika mendapatkan jabatan kekuasaan, idealisme mereka menjadi tumpul. Hanya bisa mengembek, seperti kambing "congek", membela kepentingan yang berkuasa.
Tak ada lagi perlawanan. Apalagi, banyak diantara mereka yang masuk ke dalam partai politik, dan kemudian mengubah gaya hidup mereka. Para aktivis yang dahulu "kere" alias "anak singkong", mereka sekarang bangga dengan rumah mewah, jam tangan rolex, sejumlah bini, dan simpanan uang yang bertumpuk-tumpuk.
Karena itu, mereka nggak ada yang mau berdiri di garda paling depan membela kepentingan rakyat. Mereka semua sudah menjadi "kacungnya" para penguasa. Mereka hanyalah kumpulan para pengabdi perut dan kemaluan, dan bukan para pengabdi rakyat dan pembela rakyat.
Lihat mereka yang sekarang berada di sekeliling kekuasaan, di partai-partai politik, sudah kehilangan rasa malu alias urat malunya sudah putus. Berani mengibuli rakyat dan "ngibul" kesana-kemari dengan mengatasnamakan rakyat, tanpa sedikitpun merasa bersalah.
Karena itu, tak pernah mereka berani mengahdapi tantangan masa depan, dan mereka  hanyalah menjadi bagian dari sistem parasit yang menggerogoti kekayaan negara.
Maka, taka aneh pemerintah pun berani bertindak dan melakukan keputusan yang sangat menginjak-nginjak nasib rakyat kecil. Rakyat kecil sudah tidak memiliki pembela yang sah. Mereka semua para kaum idealis yang dulu berada di garda paling depan sekarang, menjadi pembela penguasa yang menyengsarakan.
Jadi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto menyatakan pengumuman kenaikan harga BBM bersubsidi diumumkan di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika. "Seperti yang dulu, bisa di Kemenkominfo juga," kata Djoko Suyanto saat ditemui di Istana Negara, Jumat, 21 Juni 2013.
Djoko Suyanto menyatakan, berdasarkan pengalaman ada dua tempat pelaksanaan pengumuman kenaikan harga BBM bersubsidi yaitu kantor Kemenkominfo dan kantor Kementeri Koordinator Perekonomian. Aburizal Bakrie saat menjadi Menkoperekonomian mengumumkan kebijakan tersebut di kantornya pada 2005, sedangkan Purnomo Yusgiantoro saat menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral mengumumkan kebijakan harga BBM di kantor Kemenkominfo pada 2008.
Orang-orang idealis sudah punah dari bumi Indonesia. Tak ada lagi pembela rakyat. Tetapi, yang ada orang atau kelompok membela yang berani membayar. Partai polaitik yang ada sekarang ini, tak lebih para pengejar rente, dan mereka menikmati hasil rente, guna menikmati kehidupan yang dapat memuaskan syahwat perut dan kemaluan mereka.
Rakyat dibiarkan dengan nasibnya sendiri. Kalau rakyat mati kelaparan tak masalah. Hitung-hitung mengurangi jumlah kaum mlarat yang hanya merusak pemandangan kota. Wallahu'alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar